Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau

Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau

Acafeny.com Panen adalah kegiatan pemungutan (pemetikan) hasil sawah atau kebun. Dimana panen ini adalah suatu tahapan yang cukup penting untuk diperhatikan agar mendapatkan kualitas panen yang tinggi.

Seperti halnya pemanenan pada tanaman tembakau merupakan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh petani.

Pasalnya pada saat panen lah petani dapat menuai hasil dari apa yang telah lama diusahakan. Baik itu tenaga, pikiran, dan juga materi.

Setelah selesai pemanenan tembakau, maka perlu dilanjutkan kegiatan penanganan pascapanen.

Pascapanen adalah tahap penanganan hasil tanaman pertanian ataupun perkebunan  segera setelah dilakukan pemanenan.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempertahankan mutu dari tembakau yang telah dipanen.

Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau
Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau

Pada pertemuan kali ini Acafeny.com ingin berbagi informasi tentang, cara panen dan pasca panen tanaman tembakau. Berikut ini penanganan panen dan pascapanen dari tanaman tembakau secara tepat :

Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau

A. Panen

Tanaman tembakau dipanen dalam waktu yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan jenis tanaman perkebunan lainya. Dimana pemanenan tanaman ini tergantung dari warna daun, waktu pemanenan, dan teknik pemanenanya.

Umumnya tanaman tembakau dipanen satu kali untuk seluruh daun. Oleh karena itu, sebaiknya pemanenan dilakukan secara serentak baik untuk tembakau sawah, tegalan, maupun tembakau gunung.

Daun tembakau ini dapat dipetik jika sudah cukup masak. Ciri-ciri daun yang sudah masak, yaitu warna daun menjadi hijau kekuningan dan ujung daun serta tepi daun berwarna coklat. Selain itu, warna tangkai daun hijau kuning keputih-putihan. Posisi daun atau tulang daun pun mendatar ada bintik-bintik coklat menandakan bahwa daun sudah masak.

Apabila pemetikan dilakukan pada saat daun kurang atau lewat masak, maka hal ini dapat menurunkan mutu dan produksinya. Untuk itu, maka panen dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat kemasakan daun paling banyak.

Pemanenan daun tembakau yang dilakukan saat kondisi matang optimal sangat mendukung untuk diolah menjadi tembakau yang memiliki mutu tinggi.

Cara panen tanaman tembakau umumnya dilakukan dengan cara dipetik. Pemetikan daun tembakau dilakukan pada waktu pagi hari setelah embun menguap atau saat sore hari.

Setelah selesai melakukan pemetikan, maka kemudian hasilnya segera dibawa ke tempat yang teduh atau dibawa ke gudang pengolahan dengan.

Untuk proses pengangkutanya ke gudang sebaiknya dilakukan secara berhati-hati agar daun tidak mengalami kerusakan secara mekanis, fisik, maupun fisiologis.

Berhubung pemanenan menunggu daun pucuk sampai cukup masak, maka tak heran banyak daun bawah yang sudah mengering saat dipanen.

B. Pasca panen

Setalah selesai pemanenan, maka selanjutnya daun tembakau masih perlu dilakukan pengolahan sebelum sampai pada konsumen akhir.

Pasca panen daun tembakau merupakan proses yang berlangsung dari daun basah sampai daun kering (rajangan), hingga menjadi bahan (produk akhir).

Untuk mendapatkan produk yang bermutu tinggi, maka setelah pemanenan harus dilakukan pengumpulan, sortasi, curing (pengeringan).

1. Pengumpulan

Pengumpulan adalah kegiatan memisahkan hasil berdasarkan varietas, ukuran daun, kemasakan daun, dan kecacatan daun.

Daun tembakau yang dipetik usahakan jangan sampai terlipat, tertekan, ataupun kontak langsung dengan sinar matahari. Beberapa hal tersebut dapat mengakibatkan mutu dari tembakau menurun.

2. Sortasi

Pengelompokan daun (sortasi daun) yang didasarkan dari kualitas dapat dilakukan dari warna daun.

Beberapa pengelompokan tersebut, antara lain Trash (apkiran): warna daun hitam. Slick (licin/mulus): warna daun kuning muda. Less slick (kurang licin) : warna daun kuning (seperti warna buah jeruk lemon). Dan yang terakhir More grany side (sedikit kasar): warna daun antara kuning-oranye.

3. Curing (Pengeringan)

Setalah selesai dilakukanya sortasi, maka tahapan selanjutnya yaitu curing (pengeringan). Curing merupakan proses biologis yaitu melepaskan kadar air dari daun tembakau basah yang dipanen dalam keadaan hidup.

Akan tetapi , sebagian dari petani ada yang berpendapat bahwa curing adalah proses pengeringan tembakau saja. Beberapa petani tidak menyadari bahwa sel-sel di dalam daun tersebut masih tetap hidup setelah dilakukan pemanenan.

Berdasarkan dari tujuan dan jenis pengolahanya, terdapat empat cara dalam pengeringan. Cara pengeringan tersebut, antara lain air curing, sun curing, flue curing, dan smoke curing.

a. Air curing

Secara umum jenis tembakau yang dikeringkan dengan cara air curing , yaitu tembakau cerutu yang dikerjakan oleh perkebunan atau rakyat.

Dimana pengeringan dengan cara ini meliputi tiga tahapan, meliputi tahap penguningan, pengikatan warna, dan juga pengeringan.

Pada tahap penguningan dilakukan dengan cara membiarkan daun tembakau yang telah dipanen atau ditumpuk untuk pelayuan dan dihembus angin.

Proses biologis daun ini merupakan proses perubahan warna dari hijau ke warna kuning. Perubahan tersebut dikarenakan hilangnya zat hijau daun (klorophyil) ke zat kuning daun dan terjadi penguraian zat tepung menjadi gula.

Perubahan warna daun ini bisa terjadi pada kisaran suhu 32o-42o C.  Selanjutnya setelah mencapai warna kuning , dilanjutkan dengan proses pengeringan oleh hembusan angin di antara daun-daun tembakau.

Sebagai upaya untuk memudahkan perambatan angin, maka helain daun diatur pada satu tusuk bambu dengan ukuran kurang lebih 30cm.

b. Sun curing

Pengeringan yang kedua yaitu dengan cara sun curing (penjemuran dengan panas matahari). Cara pengeringan ini biasanya dilakukan pada tembakau pipa lumajang atau tembakau turki.

Dari prosesnya cara pengeringan ini memiliki tahapan yang hampir sama dengan air curing. Dimana setelah mencapai warna kuning, maka selanjutnya pengikatan warna dan pengeringanya dilakukan dengan penjemuran glantangan pada panas matahari.

c. Flue curing

Pada sistem pengeringan flue curing ini secara umum digunakan untuk pengolahan tembakau virginia. Sedangkan untuk tahapan-tahapanya sama dengan cara pengeringan yang lainnya.

Setalah berwarna kuning, maka selanjutnya daun tembakau dipanaskan dengan panas buatan. Dimana panas yang digunakan bisa berasal dari asap yang dialirkan lewat pipa asap.

d. Fire smoke curing

Cara pengeringan yang terakhir yaitu cara pengeringan dengan sistem pengasapan (fire smoke curing). Dimana teknik pengeringanya hampir sama dengan cara flue curing.

Perbedaanya terletak pada sumber panas yang digunakan. Pada sistem pengasapan, sumber panas yang digunakan berasal dari asap.

Sedangkan untuk perbedaan lainya yaitu daun tembakau dari awal sudah diasapkan, tidak diangin-anginkan dahulu seperti cara flue curing.

Hal yang menjadi patokan khusus cara pengeringan ini adalah pengaturan suhu ruangan. Dimana pengaturan ini dilakukan dengan cara menaikan suhu ruangan secara bertahap dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas tembakau yang bermutu tinggi.

Dengan kualitas produksi yang memiliki mutu tinggi, maka secara tidak langsung dapat menaikan harga jual dari tembakau tersebut.

Baca juga :

Demikian artikel tentang Cara Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Tembakau, semoga dapat menjadi referensi bagi Anda.

Follow juga Acafeny.com diFacebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *